Selasa, 03 Mei 2011

perbedaan Agama di Indonesia

Perbedaan Agama di Indonesia

Hubungan antara agama di negara Indonesia banyak mengalami pasang surut. Dari awal masa kolonial sampai akhir masa orde baru banyak kita jumpai penyebaran-penyebarana agama dan terjadi persaingan ketat antara lembaga agama. Dan pihak pemerintahpun dengan seluruh usahanya berusaha melakukan penjagaan secara signifikan agar tidak terjadi bentrok antar agama. Dari era 70’an sampai akhir tahun 90’an antar agama bukan hanya sekedar saling bertoleransi dan menghormati. Tetapi juga menggalang kerjasama dengan tujuan mencegah konflik dan menuju negara yang modernisasi. Tentunya pemerintahpun masuk dalam kerjasama tersebut.
Tetapi memasuki awal tahun 90’an keharmonisan antar pemeluk agama semakin surut. Mengingat bahwa sistem orde baru yang menekankan stabilitas dan merupakan puncak perdamaian dan toleransi agama, sangat berlawanan dengan semangat reformasi yang mengedepankan kebebasan individu. Sehingga muncullah konflik-konflik agama yang hanya karena masalah sepele menjalar kepada permasalahan SARA. Pertikaian antar suku, agama, budaya terjadi dimana-mana. Oleh karen itu kita butuh suatu penghubung dan senjata untuk menghubunghan kembali keharmonisan atar agama yang tentunya tidak berlawanan dengan kode etik semangat reformasi.
Walaupun usaha-usaha tersebut telah dimulai dan sampai detik ini belum secara maksimal mampu menjadi penghubung keharmonisan antar agama, tetapi perlu kita tanam dalam pemahaman dan dalam hati setiap warga Negara Indonesia. Bahwa semua agama mengajarkan kepada prinsip-prinsip keadilan, menghormati sesama, peduli terhadap kemiskinan, memerangi penindasan, menuju perdamaian, dan memiliki misi yang suci yaitu mengajak pemeluknya untuk mencapai derajat yang tinggi dalam spiritualisme. Dan jika terjadi penyelewengan atas prinsip-prinsip tersebut maka berarti oknum tersebut justru mengkhianati agama yang dianutnya.
Tapi sungguh fakta yang menyayat hati, ketika rasa keegoisan telah menyelimuti hati sebagian kaum muslim. Sehingga mereka tidak mengenal lagi kata perdamaian dan hanya menganggap bahwa agamanyalah yang paling benar, agamanyalah yang paling selamat, dan agamanyalah yang paling nomor satu. Sehingga kekerasan, perpecahan, pertikaian, pelecehan terhadap agama lain, bahkan pembunuhan terjadi dimana-mana, yang menurut mereka inilah jalan terbaik agar agama Islam memiliki menjadi satu-satunya agama di Negara Indonesia.
Padahal jika kita telaah kembali kajian al-Quran secara mendalam, tak ada satupun ayat yang secara tegas menyeru kepada pertikaian. Dan Allah selalu mencurahkan sapaan kasih kepada hamba-Nya. Toleransi dalam beragam bukanlah mencampur adukkan ajaran dua agama, tetapi toleransi adalah memperdalam keagamaan dan spiritual dengan berbagi pengalaman spiritual dengan penganut agama lain. Yang dengan begitu akan memperkaya pengalaman dalam rangka membangun dan memperkokoh agamanya sendiri.
Jangan menutup diri untuk mempelajari agama lain, karena ketakutan adalah buah dari keraguan, dan keraguan akan menimbulkan kegoyahan, sedangkan kegoyahan akan mendekati kemurtadan. Dalam dalam al-quran itu sendiri tidak hanya membahas tentang agama Islam, tetapi juga terdapat keterbukaan dan mengapresiasi tokoh-tokoh agama lain seperti Yahaudi dan Kristen. Jika pedoman umat muslim itu sendiri mengajarkan tentang keterbukaan, dan Nabinya mengajarkan toleransi (toleransi terhadap kafir dzimi), maka atas dasar apakah mereka melakukan kekerasan???

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar