Seperti kita ketahui bahwa jika terdapat sedikit perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang al-Quran. Maka para orientalis akan segera mengisi ruang perbedaan tersebut dengan pendapat-pendapat yang sangat hina dan melecehkan al-Quran. Seperti perbedaan ulama dalam menetapkan jumlah surat dalam al-Quran. Menurut para ulama jumlah surat dalam al-Quran yaitu 114 dan ada juga yang mengatakan terdapat 113 surat, yaitu dengan menjadikan surat al-Anfal menjadi satu surat dengan bara’ah. Ephraem Malki, warga negara Jerman asal Lebanon, penganut fanatik Kristen (Syriac Orthodox) berpendapat bahwa al-Quran adalah kitab pedoman yang menyesatkan. Jika jumlah suratnya saja sudah tidak jelas, maka bagaimana dengan isi yang terkandung didalamnya?. Jauh dari pernyatannya tersebut, Ephraem tidak mempelajari lebih dalam kenapa perbedaan tersebut terjadi. Ada beberapa pendapat yang menyatakan alasan kenapa surat bara’ah tidak diawali dengan basmalah:
1. Menurut Al Mubarrad:
Isi surat at Taubah adalah pembatalan terhadap perjanjian antara Nabi dengan orang kafir Makkah. Nabi menyuruh kepada Ali Bin Abi Thalib dihadapan mereka tanpa diawali basmallah. Selain itu juga merujuk kepada tradisi bangsa Arab, jika terjadi pembatalan perjanjian antara dua kelompok yang sebelumnya mempunyai suatu perjanjian, maka surat pembatalan janji tersebut tidak diawali dengan basmallah.
2. Abu Asy-Syaikh dan Ibnu Mardawaih dari Ibn Abbas:
Ketika seseorang bertanya tentang alasan tidak dicantumkannya basmallah dalam surat at Taubah, Ali Bin Abi Thalib menjawab, bahwa basmallah adalah syarat perdamaian dan keamanan. Sedangkan surat ini turun dalam suasana perang.
3. Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, an-Nasai
Berdasarkan dialog yang terjadi antara Ibnu Abbas dan Utsman bin Affan, surat al-Anfal adalah surat madaniyah pertama, sedangkan surat at Tubah adalah surat madaniyah yang terakhir diturunkan. Tetapi terdapat kemiripan kisah-kisah yang terkandung di dalamnya sehingga Utsman mengira bahwa at Taubah adalah bagian dari surat al-Anfal. Tetapi sampai beliau wafat belum ada penjelasan tentang hal tersebut. Sehingga Utsman menggadengkan kedua surat tersebut tanpa dibatasi oleh basmallah.
4. Dari tafsir ruh-al ma’ani karya Al-Alusi jilid II hal 333
Terjadi perbedaan pendapat antara tim penulis pada masa Utsman. Apakah surat al- Anfal dan at Taubah itu satu surat ataukah dua surat. Maka diambillah jalan tengan dengan mengabungkan dua surat tersebut tanpa dibatasi oleh basmallah.
5. Al-Qusyairi
Jibril menurunkan surat at Taubah tanpa basmalah
Perbedaan penetapan jumlah surat dalam al-Quran sama sekali bukan karena al-Quran adalah kitab yang tidak jelas. Tapi lebih dari itu para ulama sangat berhati-hati dalam menentukan sesuatu yang berkenaan dengan al-Quran. Maka dalam penetapannyapun ulama mengumpulkan berbagai keterangan dan pendapat-pendapat para ulama salaf akan pandangannya terhadap al-Quran. Jikalaulah bukan karena hati-hati maka para ulama akan dengan mudah menyatakan bahwa surat dalam al-Quran berjumlah 113 atau 114 secara pasti. Tanpa harus mengungkapkan pendapat-penndapat yang lain.
Luxemburg menyebut dalam bukunya, bahwa dalam surat-surat al-Qur’an masih banyak kesalahan dalam kata-katanya sejumlah contoh. Menurutnya, kata “qaswarah” dalam Q.S. 74: 51 mestinya dibaca “qasuurah”. Lalu kata “sayyi’at ‘(Q.S. 4:18) mestinya dibaca “saniyyat” dari bahasa Syriac “sanyata. ” Juga kata “adhannaka” (Q.S. 41: 47) seharusnya dibaca “idh-dhaka”. Kemudian kata “utullin” (Q.S. 68: 13) mestinya dibaca ”alin”, sedangkan kata “zanim” dalam ayat yang sama harusnya dibaca “ratim ” sesuai dengan bahasa Syriac “rtim”. Begitu pula kata “muzjatin” (Q.S. 12: 88) mestinya di¬baca “murajjiyatin”, dari bahasa Syriac “mraggayta”. Seterusnya kata “yulhiduna” (Q.S. 16: 103) harusnya dibaca “yalghuzuuna” dari bahasa Syriac “igez”. Kemudian kata “tahtiha” (Q.S. 19: 24) mestinya dibaca sesuai dengan bahasa Syriac “nahiitihaa”. Adapun kata “saraban” (Q.S. 18: 61) harus¬nya dibaca menurut bahasa Syriac “syarya”.
Pembahasan yang lain yaitu, ia mengutak-atik surah al-’Alaq semata-mata dengan alasan bahwa isinya, sebagaimana surat al-Fatihah, diklaim diambil dari liturgi Kristen-Syria tentang jamuan makan malam terakhir Yesus.
Argumen Luxemburg bisa ditolak, sebab seluruh uraiannya dibangun atas asumsi-asumsi yang menyimpang.
1. Pertama, ia mengira al-Qur’an di¬baca berdasarkan tulisannya, sehingga ia boleh seenaknya berspekulasi tentang suatu bacaan.
2. Kedua, ia menganggap tulisan adalah segalanya, menganggap manuskrip sebagai patokan, sehingga suatu bacaan harus disesuaikan dengan dan mengacu pada teks.
3. Ketiga, ia menyamakan al-Qur’an dengan Bibel, di mana pembaca boleh mengubah dan mengutak-atik teks yang dibacanya bila dirasa tidak masuk akal atau sulit untuk dipahami. Ketiga asumsi ini dijadikan titik-tolak dan pondasi argumen-argumennya taken for granted, tanpa terlebih dahulu dibuktikan kebenarannya.
Namun pendapat ini dikritik oleh seorang pakar semitistik dan direktur Orientalisches seminar di Universitas Frankfurt, Prof. Hans Daiber, dari sudut metodologi karya Luxemburg cukup bermasalah, karena itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dalam reviewnya atas buku Luxenberg, Daiber mengemukakan lima poin:
1. Semua ahli filologi yang mengkaji manuskrip Arab maklum bahwa seringkali suatu kata yang ditulis gundul tanpa baris/harakat dapat dibaca macam-macam, sehingga tulisan yang sama bisa dibaca berbeda, misalnya ‘banaat’. Ini bisa jadi tergantung konteksnya ataupun tergantung kehendak dan spekulasi sang pembaca. Dalam hal ini, Luxemburg memilih yang kedua. Lebih celaka lagi (ein gefaehrli-ches Spiel, kata Daiber) karena yang diutak-atik oleh Luxemburg bukan manuskrip gundul, melainkan kitab suci al-Qur’an yang sudah jelas dan disepakati seluruh bacaannya, adalah tidak bijak kalau Luxemburg bersikeras mau mengubah bacaan al-Qur’an.
2. Luxemburg bisa jadi keliru dalam berasumsi dan mengajukan pertanyaannya, bahwa mufassirun tidak bisa memahami kata-kata tertentu atau tidak bisa menjelaskan maksud ayat-ayat tertentu karena al-Qur’an berbahasa Syria. Bisa jadi sejumlah kosa-kata yang terdapat dalam Al-Qur’an asli bahasa Arab tetapi belakangan mengalami pergeseran makna sehingga para mufassir mengalami kesulitan dalam menerangkannya.
3. Andai kata memang sejumlah kosakata tersebut berasal dari bahasa Syriac, bukan tidak mungkin kata-kata asing tersebut telah diislamkan, telah ditukar atau diisi dengan makna baru (Zusaetliche Bedeutungen) yang lebih dalam, lebih tinggi, dan lebih luas dari makna asalnya.
4. Untuk mendukung analisis dan argumen-argumennya, mestinya Luxenberg merujuk pada kamus bahasa Syriac atau Aramaic yang ditulis pada abad ke-7 atau 8 Masehi (zaman Islam), dan bukan menggunakan kamus bahasa Chaldean abad ke-20 karangan Jacques E. Manna terbitan tahun 1900
5. Bisa jadi juga kosakata al-Qur’an memang bahasa Arab asli, tidak seperti yang dituduhkan oleh Luxemburg. Kalaupun ada kemiripan, maka itu hanya kebetulan saja. Sama halnya dengan kata “kepala” dalam bahasa Melayu-Indonesia yang mirip dengan kata “kefale” dalam bahasa Yunani Kuno (Ancient Greek). Kemiripan tidak mesti menunjukkan pengaruh atau pencurian. Sebagai contoh, Daiber menyebut antara lain kata-kata “fassala”, “jama’a”, “yassara”, “sayyara”, “mughadiban”, “daraba” dan “zawwaja” yang diklaim oleh Luxemburg telah dibaca keliru.
Diakhir pembahasan tentang pandangan orientalis ini, walaupun sebenarnya masih banyak pandangan-pandangan orientalis yang lainnya, penulis berpesan kepada para pembaca. Kiranya satu ayat ini sangat berguna jika dijadikan pedoman oleh umat Islam dalam meneguhkan keyakina n dalam hati dan menepis segala keraguan terhadap al-Quran. ولن ترضى عنك اليهودولا النصرى حتى تتبع ملتهم{البقرة:120}
Sangat jelas dituliskan dalam ayat ini bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak akan berhenti menghancurkan umat Islam sampai kita menjadi pengikutnya (Na’udzubillah min dzalik). Jadi sangat tidak pantas bagi umat Islam jika ia ragu terhadap al-Quran hanya karena mendengar atau membaca karangan-karangan para orientalis terhadap al-Quran. Justru sebagi umat Islam yang taat dalam beragama maka hendaknya kita selalu mencari jawaban atas pendapat-pendapat orientalis dan mengeluarkan pendapat-pendapat yang bisa menjunjung tinggi kebenaran al-Quran dan keagungan al-Quran.
keegoisan.... sifat yang hampir ada disetiap sanubari manusia, sulit untuk dihindari, tapi akan berarti jika seseorang mampu mengalahkannya. Bukan hanya untuk kepentingan pribadinya tetapi juga untuk orang-orang yang menyayanginya dan selalu ada untuknya. just us to your self....who am i?and how am i?
Tampilkan postingan dengan label kebenaran al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebenaran al-Quran. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 Mei 2011
al-Quran Sebagai Pedoman tanpa Keraguan
Kenapa ada Keraguan terhadap al-Quran
Seringkali kita jumpai beberapa orang non Islam atau bahkan orang Islam itu sendiri ragu terhadap al-Quran. Baik dari keotentisaannya, kandungannya, maupun ajarannya. Tak sedikit dari mereka yang mengatakan bahwa al-Quran itu adalah bohong, ketinggalan zaman, bahkan tak mengikuti perkembangan zaman. Mereka mengatakan demikian karena mereka belum mengetahui bagaimana al-Quran itu sebenarnya, bagaimana mereka diturunkan, dan bagaimana keagungan al-Quran.
Dalam kesempatan kali ini penulis ingin menjelaskan tentang beberapa pandangan orientalis tentang al-Quran yang sangat menginjak-injak kemu’jizatan al-Quran, yang menimbulkan keraguan-keraguan terhadapnya, dan akan dijelaskan juga bagaimana struktur dalam al-Quran, dan terakhir akan dijelaskan beberapa peristiwa-peristiwa maha dahsyat yang tertulis dalam al-Quran. Dengan demikian penulis berharap para pembaca bisa mengambil pelajaran, dan benar-benar mengembalikan kemurnian al-Quran, sehingga menjadi pedoman bagi umat Islam dan menghilangkan keraguan terhadapnya.
Usaha orientalis dalam melemahkan al-Quran
Salah satu penyebab timbulnya keraguan dalam al-Quran adalah karena kehebatan para orientalis dalam mencari celah dan kelemahan al-Quran yang sebenarnya dibuat-buat oleh kepandaian mereka yang cenderung menjerumuskan. Secara bahasa orientalisme berasal dari kata orient yang artinya timur. Yaitu orang yang menekuni dunia ketimuran. Utamanya, istilah orientalis diberikan kepada orang-orang Nasrani yang ingin mempelajari ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab. Sedangkan kata isme sendiri menunjukkan makna faham. Jadi orientalisme bermakna suatu faham atau aliran yang berkeinginan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa timur beserta lingkungannya.
Kajian mengenai orientalisme tidak terlepas dari wacan hubungan Islam dan Barat. Umumnya, dipahami bahwa kalangan orientalis memahami Timur sebagai suatu pemahaman dan analisa yang tidak berimbang, cenderung menyudutkan pihak yang kedua.
Orientalisme merupakan suatu ilmu yang membahas tentang bahasa. Budaya termasuk agama dan kesustraan masyarakat timur, keahlian di atas juga tidak bisa dinamakan Orientalis karena terbukti tidak sedikit dari mereka yang di namai Orientalis, dan tidak juga orang barat dinamakan sebagai orang Orientalis, tetapi orientalis adalah yang membahas al-Qur’an dengan tidak adanya keterbatasan akal, melainkan sengaja ingin membuat suatu tandingan dari pada al-Qur’an agar mereka dapat menjatuhkan agama Islam yang mereka kira ke autentikan al-Qur’an perlu di pertanggung jawabkan.
Para orientalis mencoba untuk mengkritisi al-qur’an melalui pendekata sosio-historis, dimana pendekatan tersebut dalam pengkajian al-Qur’an di Barat berpakar dari historisme, yang beranggapan bahwa masa lampau harus di teliti dalam berpangkal dari masa itu sendiri, bukan dari masa kini atau sutu bagan luar. Pendekatan sosio-historis ini sering dipergunakan oleh orientalis untuk menunjuk untuk berbagai kejadian aneh berkiatan dengan teks, bahasa al-qur’an dan bagaimana al-Qur’an diturunkan, dan dibukukan.
Para orientalis telah menghujat al-Qur’an. Mereka menolak, jika al-Qur’an meluruskan pondasi agama Yahudi Kristen. Dalam kaitannya dengan agama Kristen misalnya Allah berfirman: “ Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah ialah Al Masih putra Maryam” Sesungguhnya kafirlah orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga.” Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Selain itu Allah melaknat orang-orang Nasrani karena menyatakan Al Masih itu putra Allah.
Pernyataan al-qur’an tersebut membuat kalangan Kristiani marah dan geram. Oleh sebab itu, sejak awal mereka menganggap al-qur’an sama sekali bukan kalam Ilahi. Mereka menjadikan Bibel sebagai tolak ukur untuk menilai al-qur’an. Mereka menilai bila al-qur’an bertentangan dengan kandungan Bibel. Maka al-Qur’an yang salah, mereka berani mengkritik bahwa al-qur’an bersumber dari syetan. Padahal dalam dalam perdebatan antara umat Islam yang dilakukan di Bandung pada tahun 2004, sangat jelas kita saksikan bagaimana para pendeta diam seribu bahasa ketika seorang Syaikh menjelaskan tentang kepalsuan bibel. Bahkan sangat jelas disampaikan bahwa bibelpun pada hakikatnya mengakui kerasulan Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir dengan membawa mu’jizat berupa al-Quran yang merupakan pedoman umat Islam sepanjang zaman.
Jika kitab pedomannya saja mengakui Nabi dengan al-Quran, kenapa justru kebanyakan orang kristen terutama kalangan orientalis mengingkari al-Quran? kemudian atas dasar apa mereka mengatakan bahwa bibel paling benar dibanding dengan kitab-kitab yang lain?
Anton Tien merupakn kalangan Kristen yang sering menjadikan risalah Abdul Masih al-Kindi sebagai rujukan untuk menghujat al-Qur’an. Yang mana al-Kindi menyimpulkan orang yang percaya al-Qur’an berasal dari al-Qur’an adalah orang yang sangat tolol. Menurut dia Muhammad dengan al-Qur’annya sama sekali tidak membawa mukjizat, sebagaimana Nabi Musa yang membelah laut dan Kristus yang menghidupkan orang mati serta menyembuhkan penyakit kusta.
Ricar Bell, seorang orientalis abad XX, dengan memerhatikan QS.al-Muzamil(73):1-8, mengatakan bahwa nabi Muhammad saw bersusah payah menempatkan ayat al-qur’an sesuai urutan wahyu, memilih waktu malam sebagai yang paling kuat dalam kesan dan paling tepat dalam ujaran yaitu, waktu munculnya pikiran paling jelas dan kata-katanya paling tepat. Bahkan Bell memahami QS al-Qiyamat (29): 16-19 sebagai upaya nabi sedang mati-matian mengarang dengan mencari kata-kata yang bisa mengalir lancar dan bersajak untuk mengungkapkan maknanya, mengulang-ngulang frase dengan bersuara kepada diri sendiri, mencoba memaksa kelanjutannya menjadi jelas. Padahal seperti kita ketahui bahwa Nabi ketika mendapat wahyu beliau dilarang mengucapkan lafadz tersebut, karena Allah telah mengumpulkannya didalam dada nabi. Nabi adalah seorang yang buta huruf, yang tak bisa membaca. Jika mengatakan bahwa itu adalah tulisan dan karya beliau, maka bagaimanakah Nabi menulisnya?
Pandangan Bell ini dengan sengaja mengkaburkan kenyataan bahwa al-Qur’an, sekalipun disampaikan melalui lisan Nabi SAW, betul-betul merupakan wahyu yang datang dari Allah. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat bahwa al-Qur’an tidak hanya memuat hal yang sesuai dengan kehendak Nabi. Jikaulah memang al-Quran merupakan buatan dan karangan Nabi, pastilah beliau akan membuat sajak-sajak yang mengangung-agungkan dirinya, dan akan membuat al-Quran sesuai dengan keinginan hatinya. Sedangkan dalam al-Quran banyak kita jumpai ayat-ayat yang menegur Nabi. Jika itu adalah karangan Nabi, kemudian siapakah yang menegur Nabi dalam ayat tersebut?
Sangat jelas sekali bahwa pendapat para orientalis tersebut telah menelanjangi ke-orisinilan al-Quran. Apa yang dikatakan oleh Anton Tien dalam penjelasan diatas sangat tepat jika kita kaitkan dengan surat al-Baqarah ayat 13, yaitu orang-orang kafir yang inkar kepada al-Quran.
Pada hakikatnya apa yang orientalis lakukan terhadap al-Quran adalah karena kebencian dan keirian yang mendalam terhadap umat Islam apalagi terhadap al-Quran. Karena seperti kita ketahui, umat Islam yang tersebar di seluruh pelosok dunia ini, semuanya berpegang teguh pada satu kitab. Dan menjadi pedoman dalam berperilaku dan juga beribadah. Setiap timbul suatu permasalahan dalam kehidapan, maka jalan yang diambil adalah melalui al-Quran. Tak herankan jika mereka terus menggali kesalahan bahkan kesalahan yang dibuat-buat yang tak lain bertujuan untuk melemahkan al-Quran dan menimbulkan keraguan dalam diri umat Islam agar mereka berpaling dari al-Quran.
Seringkali kita jumpai beberapa orang non Islam atau bahkan orang Islam itu sendiri ragu terhadap al-Quran. Baik dari keotentisaannya, kandungannya, maupun ajarannya. Tak sedikit dari mereka yang mengatakan bahwa al-Quran itu adalah bohong, ketinggalan zaman, bahkan tak mengikuti perkembangan zaman. Mereka mengatakan demikian karena mereka belum mengetahui bagaimana al-Quran itu sebenarnya, bagaimana mereka diturunkan, dan bagaimana keagungan al-Quran.
Dalam kesempatan kali ini penulis ingin menjelaskan tentang beberapa pandangan orientalis tentang al-Quran yang sangat menginjak-injak kemu’jizatan al-Quran, yang menimbulkan keraguan-keraguan terhadapnya, dan akan dijelaskan juga bagaimana struktur dalam al-Quran, dan terakhir akan dijelaskan beberapa peristiwa-peristiwa maha dahsyat yang tertulis dalam al-Quran. Dengan demikian penulis berharap para pembaca bisa mengambil pelajaran, dan benar-benar mengembalikan kemurnian al-Quran, sehingga menjadi pedoman bagi umat Islam dan menghilangkan keraguan terhadapnya.
Usaha orientalis dalam melemahkan al-Quran
Salah satu penyebab timbulnya keraguan dalam al-Quran adalah karena kehebatan para orientalis dalam mencari celah dan kelemahan al-Quran yang sebenarnya dibuat-buat oleh kepandaian mereka yang cenderung menjerumuskan. Secara bahasa orientalisme berasal dari kata orient yang artinya timur. Yaitu orang yang menekuni dunia ketimuran. Utamanya, istilah orientalis diberikan kepada orang-orang Nasrani yang ingin mempelajari ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab. Sedangkan kata isme sendiri menunjukkan makna faham. Jadi orientalisme bermakna suatu faham atau aliran yang berkeinginan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa timur beserta lingkungannya.
Kajian mengenai orientalisme tidak terlepas dari wacan hubungan Islam dan Barat. Umumnya, dipahami bahwa kalangan orientalis memahami Timur sebagai suatu pemahaman dan analisa yang tidak berimbang, cenderung menyudutkan pihak yang kedua.
Orientalisme merupakan suatu ilmu yang membahas tentang bahasa. Budaya termasuk agama dan kesustraan masyarakat timur, keahlian di atas juga tidak bisa dinamakan Orientalis karena terbukti tidak sedikit dari mereka yang di namai Orientalis, dan tidak juga orang barat dinamakan sebagai orang Orientalis, tetapi orientalis adalah yang membahas al-Qur’an dengan tidak adanya keterbatasan akal, melainkan sengaja ingin membuat suatu tandingan dari pada al-Qur’an agar mereka dapat menjatuhkan agama Islam yang mereka kira ke autentikan al-Qur’an perlu di pertanggung jawabkan.
Para orientalis mencoba untuk mengkritisi al-qur’an melalui pendekata sosio-historis, dimana pendekatan tersebut dalam pengkajian al-Qur’an di Barat berpakar dari historisme, yang beranggapan bahwa masa lampau harus di teliti dalam berpangkal dari masa itu sendiri, bukan dari masa kini atau sutu bagan luar. Pendekatan sosio-historis ini sering dipergunakan oleh orientalis untuk menunjuk untuk berbagai kejadian aneh berkiatan dengan teks, bahasa al-qur’an dan bagaimana al-Qur’an diturunkan, dan dibukukan.
Para orientalis telah menghujat al-Qur’an. Mereka menolak, jika al-Qur’an meluruskan pondasi agama Yahudi Kristen. Dalam kaitannya dengan agama Kristen misalnya Allah berfirman: “ Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah ialah Al Masih putra Maryam” Sesungguhnya kafirlah orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga.” Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Selain itu Allah melaknat orang-orang Nasrani karena menyatakan Al Masih itu putra Allah.
Pernyataan al-qur’an tersebut membuat kalangan Kristiani marah dan geram. Oleh sebab itu, sejak awal mereka menganggap al-qur’an sama sekali bukan kalam Ilahi. Mereka menjadikan Bibel sebagai tolak ukur untuk menilai al-qur’an. Mereka menilai bila al-qur’an bertentangan dengan kandungan Bibel. Maka al-Qur’an yang salah, mereka berani mengkritik bahwa al-qur’an bersumber dari syetan. Padahal dalam dalam perdebatan antara umat Islam yang dilakukan di Bandung pada tahun 2004, sangat jelas kita saksikan bagaimana para pendeta diam seribu bahasa ketika seorang Syaikh menjelaskan tentang kepalsuan bibel. Bahkan sangat jelas disampaikan bahwa bibelpun pada hakikatnya mengakui kerasulan Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir dengan membawa mu’jizat berupa al-Quran yang merupakan pedoman umat Islam sepanjang zaman.
Jika kitab pedomannya saja mengakui Nabi dengan al-Quran, kenapa justru kebanyakan orang kristen terutama kalangan orientalis mengingkari al-Quran? kemudian atas dasar apa mereka mengatakan bahwa bibel paling benar dibanding dengan kitab-kitab yang lain?
Anton Tien merupakn kalangan Kristen yang sering menjadikan risalah Abdul Masih al-Kindi sebagai rujukan untuk menghujat al-Qur’an. Yang mana al-Kindi menyimpulkan orang yang percaya al-Qur’an berasal dari al-Qur’an adalah orang yang sangat tolol. Menurut dia Muhammad dengan al-Qur’annya sama sekali tidak membawa mukjizat, sebagaimana Nabi Musa yang membelah laut dan Kristus yang menghidupkan orang mati serta menyembuhkan penyakit kusta.
Ricar Bell, seorang orientalis abad XX, dengan memerhatikan QS.al-Muzamil(73):1-8, mengatakan bahwa nabi Muhammad saw bersusah payah menempatkan ayat al-qur’an sesuai urutan wahyu, memilih waktu malam sebagai yang paling kuat dalam kesan dan paling tepat dalam ujaran yaitu, waktu munculnya pikiran paling jelas dan kata-katanya paling tepat. Bahkan Bell memahami QS al-Qiyamat (29): 16-19 sebagai upaya nabi sedang mati-matian mengarang dengan mencari kata-kata yang bisa mengalir lancar dan bersajak untuk mengungkapkan maknanya, mengulang-ngulang frase dengan bersuara kepada diri sendiri, mencoba memaksa kelanjutannya menjadi jelas. Padahal seperti kita ketahui bahwa Nabi ketika mendapat wahyu beliau dilarang mengucapkan lafadz tersebut, karena Allah telah mengumpulkannya didalam dada nabi. Nabi adalah seorang yang buta huruf, yang tak bisa membaca. Jika mengatakan bahwa itu adalah tulisan dan karya beliau, maka bagaimanakah Nabi menulisnya?
Pandangan Bell ini dengan sengaja mengkaburkan kenyataan bahwa al-Qur’an, sekalipun disampaikan melalui lisan Nabi SAW, betul-betul merupakan wahyu yang datang dari Allah. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat bahwa al-Qur’an tidak hanya memuat hal yang sesuai dengan kehendak Nabi. Jikaulah memang al-Quran merupakan buatan dan karangan Nabi, pastilah beliau akan membuat sajak-sajak yang mengangung-agungkan dirinya, dan akan membuat al-Quran sesuai dengan keinginan hatinya. Sedangkan dalam al-Quran banyak kita jumpai ayat-ayat yang menegur Nabi. Jika itu adalah karangan Nabi, kemudian siapakah yang menegur Nabi dalam ayat tersebut?
Sangat jelas sekali bahwa pendapat para orientalis tersebut telah menelanjangi ke-orisinilan al-Quran. Apa yang dikatakan oleh Anton Tien dalam penjelasan diatas sangat tepat jika kita kaitkan dengan surat al-Baqarah ayat 13, yaitu orang-orang kafir yang inkar kepada al-Quran.
Pada hakikatnya apa yang orientalis lakukan terhadap al-Quran adalah karena kebencian dan keirian yang mendalam terhadap umat Islam apalagi terhadap al-Quran. Karena seperti kita ketahui, umat Islam yang tersebar di seluruh pelosok dunia ini, semuanya berpegang teguh pada satu kitab. Dan menjadi pedoman dalam berperilaku dan juga beribadah. Setiap timbul suatu permasalahan dalam kehidapan, maka jalan yang diambil adalah melalui al-Quran. Tak herankan jika mereka terus menggali kesalahan bahkan kesalahan yang dibuat-buat yang tak lain bertujuan untuk melemahkan al-Quran dan menimbulkan keraguan dalam diri umat Islam agar mereka berpaling dari al-Quran.
Langganan:
Postingan (Atom)